Skip to main content

Posts

Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN)

Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 312/Menkes/SK/IX/2013 tentang Daftar Obat Esensial Nasional 2013, obat esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan, mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan rehabilitasi, yang diupayakan tersedia di fasilitas kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya.
Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor HK.01.07/MENKES/395/2017 tentang Daftar Obat Esensial Nasional 2017, Daftar Obat Esensial Nasional, yang selanjutnya disebut DOEN merupakan daftar obat terpilih yang paling dibutuhkan dan harus tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya.


DOEN harus diterapkan secara konsisten dan terus-menerus dalam pemberian pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Kriteria dan petunjuk pemilihan obat esensial dijabarkan dalam Kepmenkes RI Nomor 312/Menkes/SK/IX/2013.
Obat esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan. Jika dalam pelayanan kesehatan diperlukan obat…
Recent posts

Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA)

Obat Wajib Apotek yaitu obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker kepada pasien di Apotek tanpa resep dokter. Obat-obat yang termasuk dalam daftar DOWA ditentukan oleh Menteri Kesehatan.
Apoteker di Apotek dalam melayani pasien yang memerlukan obat-obat jenis ini memiliki kewajiban antara lain: Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien yang disebutkan dalam Obat Wajib Apotek yang bersangkutan.Membuat catatan pasien serta obat yang telah diserahkan.Memberi informasi meliputi dosis dan aturan pakainya, kontraindikasi, efek samping dan lain-lain yang perlu diperhatikan oleh pasien. Tujuan diatur daftar obat wajib apotek ini untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan. Hal ini dirasa perlu ditunjang dengan sarana yang dapat meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional.
Sejalan dengan itu, peran Apoteker di apotek dalam pelayanan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) serta pelayanan obat k…

Pengelolaan Obat

Pengadaan dan Penyimpanan Obat Dalam memperoleh obat dan perbekalan farmasi, apotek harus mengambil dari pabrik farmasi, pedagang besar farmasi (PBF), apotek lainnya, atau sarana distribusi lain yang sah. Obat-obat tersebut harus memenuhi ketentuan daftar obat wajib apotek. Surat pesanan obat dan perbekalan farmasi lainnya harus ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek dengan mencantumkan nama dan nomor SIK. Jika APA berhalangan dapat diwakilkan oleh apoteker pendamping atau apoteker pengganti.
Surat pesanan obat khususnya obat-obat narkotik dan psikotropik harus ditandatangani oleh APA, atau jika berhalangan dapat diwakili oleh apoteker pendamping atau apoteker pengganti dengan menebutkan nama dan SIK-nya.
Obat dan bahan obat harus disimpan dalam wadah yang cocok dan harus memenuhi ketentuan pembungkusan dan penandaan sesuai Farmakope edisi terbaru atau yang ditetapkan oleh BPOM.
Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran obat serta perbekalan kesehatan di bidang farmasi harus diat…

Pengelolaan Resep

Pengelolaan Resep yang Telah Dikerjakan Resep yang telah dibuat, disimpan menurut urutan tanggal dan nomor penerimaan/pembuatan resep. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya, tandai dengan garis merah di bawah nama obatnya. Resep yang telah disimpan melebihi 3 tahun dapat dimusnahkan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai. Pemusnahan resep dilakukan oleh Apoteker Pengelola Apoteker (APA) bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotek.
Pada pemusnahan resep harus dibuat Berita Acara Pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan, rangkap 4 dan ditandatangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotek.
Berita Acara Pemusnahan itu berisi: Tanggal pemusnahan resepCara pemusnahan resepJumlah bobot resep yang dimusnahkan dalam satuan kilogramTanggal resep yang terlama dan terbaru dimusnahkan

Sumber: Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: EGC.

Salinan Resep (Copy Resep)

Salinan resep (copy resep, apograph, exemplum, atau afschrift) adalah salinan yang dibuat oleh apotek, bukan hasil fotokopi.
Salinan resep harus berdasarkan kaida PCC (Pro Copy Conform) yang artinya disalin sesuai aslinya.
Salinan resep selain memuat semua keterangan yang termuat dalam resep asli juga harus memuat: Nama dan alamat apotek.Nama dan nomor SIK Apoteker Pengelola Apotek (APA).Tanda tangan atau paraf Apoteker Pengelola Apotek serta stempel apotek.Setiap ℞ obat harus di tutup dengan paraf penulis resep.Tanda "det" = "detur" untuk obat yang sudah diserahkan, atau tanda "nedet" = "ne detur" untuk obat yang belum diserahkan. Tanda ini ditulis di dekat nama obat atau jumlah obat yang diberikan. Harus jelas menunjukkan pada obat yang dimaksud. Serta dicantumkan berapa jumlah obat yang sudah diberikan bila jumlah obat hanya diberikan sebagian.Nomor resep dan tanggal pembuatan resep.Pernyataan PCC.
Ketentuan lain mengenai copy resep berdasark…

Narkotika dan Psikotropika

Berdasarkan UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan.
Narkotika digolongkan ke dalam 3 golongan: Narkotika Golongan INarkotika Golongan IINarkotika Golongan III Perbedaannya adalah Narkotika Golongan I hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contohnya opium, kokain, ganja, heroin, dll.
Narkotika Golongan II adalah narkotika berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contohnya morfin, petidin, m…

Obat Tradisional

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Dalam beberapa kondisi, maksud penggunaan kata "Jamu", "Obat tradisional", dan "Obat Bahan Alam" adalah menunjukkan pada hal yang sama. Seperti pada Keputusan Kepala BPOM RI tentang Ketentuan Pokok Pengelompokkan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia tahun 2004, disitu disebutkan Obat Bahan Alam, yang dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Juga pada Materi Edukasi tentang Peduli Obat dan Pangan Aman tahun 2015 yang diterbitkan BPOM, disebutkan Obat Tradisional/Jamu, juga dibagi menjadi 3 yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.
Untuk kemudahan pemahaman, selanjutnya dalam postingan ini hanya disebutkan satu saj…